Garam Beryodium
Hari ini aku senang sekali. Mama mengajakku membantunya memasak.
“Ma, ini tempenya sudah selesai dipotong-potong.”
“Pintar. Sekarang kamu kupas bawang merah,ya. Berani ngga?”tanya Mama.
“Aahh...Mama ngeledek, ya. Berani, kok. Keluar air mata sedikit ngga pa pa, “ kataku.
“Mana, Ma bawangnya.”
“Itu sudah mama siapkan di meja dapur. Hati-hati, sayang.”
“Siip, Ma!”
“Ma, kenapa sih Mama jarang masak daging atau ayam? Tempe, tahu, telur melulu.” tanyaku.
“Liza sayang, kita khan bukan orang kaya. Papa mu hanya karyawan biasa yang gajinya pas-pasan. Jika ada uang lebih, Mama tabung buat biaya sekolahmu. Yang penting makanan yang kita makan tetap bergizi. Makanan bergizi khan nggak harus mahal.”kata Mama menjelaskan sambil menyiangi kangkung.
“Aduh, Mama lupa. Garamnya habis. Setelah selesai mengupas bawang, tolong belikan garam di warung Bu Ummi, ya.”
Setelah selesai mengupas bawang aku segera pergi ke Warung Bu Ummi untuk membeli garam pesanan Mama.
“Bilang Bu Ummi garam yang beryodium, ya.”
“Yodium, ya Ma.” Aku berusaha mengingat-ingat.
“Yodium.....yodium..... Apa sih yodium?” tanyaku dalam hati.
Saat melewati gang aku terkejut. Ada apa di leher ibu itu? Aku berpapasan dengan seorang ibu yang mempunyai benjolan di lehernya. Aku takut sekali. Aku berpura-pura memetik bunga di pinggir jalan supaya tidak melihat ibu itu.Akhirnya ibu itu lewat juga. Aku segera bergegas menuju warung Bu Ummi.
“Bu Ummi, beli garam beryodium,”pintaku pada Bu Ummi.
“Duh....pintar sekali. Ini Liza, garamnya,” kata Bu Ummi sambil menyerahkan garam. Aku segera menyerahkan uang kepada Bu Ummi.
“Terima kasih, Bu” kata Liza.
“Sama-sama.” balas Bu Ummi.
Sambil berlari aku pulang ke rumah. Tak sabar aku ingin menceritakan pengalamanku tadi pada mama.
“Ma...Mama...!” teriakku.
“Ada apa, sayang? Kok kamu ngos-ngosan begitu. Habis lari-lari,ya?”tanya Mama.
“Iya, Ma. Aku tadi ketemu ibu yang ada benjolan besar di lehernya. Aku takut,Ma,” ceritaku sambil mengatur nafas.
“Ibu itu sakit apa sih,Ma? Aku mengambil air minum.
“Ohh...Pasti kamu ketemu Mbok Ijah, pembantu barunya Bu Wati,” kata Mama.
“Mbok Ijah itu sakit gondok.”
Aku jadi penasaran. “Ooohhh...Kenapa bisa sakit gondok, Ma? Serem banget bisa ada benjolan besar di leher.”
“Waktu kecil pasti Mbok Ijah kekurangan yodium.”
“Yodium....Seperti garam beryodium yang aku beli tadi,Ma?”
“Betul, sayang.” Mama tersenyum.
“Yodium itu apa sih, Ma?” Aku masih penasaran.
Sambil membubuhi garam pada tumis kangkungnya, Mama menlanjutkan penjelasannya.
“Yodium itu sejenis mineral yang diperlukan oleh tubuh kita. Kebutuhannya ngga banyak,sih, tapi penting untuk merangsang hormon yang namanya tiroksin. Fungsinya untuk pertumbuhan dan perkembangan anak-anak seperti kamu. Hormon tiroksin itu letaknya di bagian leher. Itulah sebabnya kalau kekurangan yodium ada benjolan di leher.”
“Ooooh....Kalau begitu yang banyak garamnya, Ma. Aku ngga mau kekurangan yodium,” kataku. Aku takut leherku ada benjolan seperti Mbok Ijah.
“Ha...ha..ha.... Nanti keasinan dong,sayang. Malah ngga enak masakan mama. Ingat ngga, Mama bilang kan kebutuhan yodium kita ngga banyak. Tapi harus ada. “
“Oh iya. Aku lupa. Rendaman tempe ini diberi garam beryodium juga, Ma?” tanyaku.
“Iya cukup satu sendok teh.” kata Mama.
Siang itu aku makan dengan lahap sekali. Walaupun hanya makan sayur kangkung dan goreng tempe, namun makanan ini bergizi. Dan yang penting Mama sudah memberikan garam beryodium supaya aku tumbuh sehat dan tidak kena sakit gondok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar