Sampah di depan rumah Abbi dan tetangganya menumpuk. Maklum sudah 3 hari Pak Ujang, tukang sampah yang tiap hari mengangkut sampah di komplek sedang sakit tifus. Komplek yang biasanya bersih, sekarang banyak sampah menumpuk menimbulkan bau tak sedap.
Bau sampah itu mengundang perhatian Lalatah dan Lalatih, dua ekor lalat hijau. “Lalatih, hari kita main yuk ke komplek yang bau itu,” kata Lalatah. “Pasti banyak makanan yang lezat di sana.” Tanpa menjawab Lalatih langsung terbang menuju komplek diikuti Lalatah.
“Kita ke sana, Lalatah,” teriak Lalatih sambil terbang menuju tempat sampah di depan rumah Abbi. “Wah sudah berapa lama nih sampah di sini, pasti enak rasanya,” kata Lalatih gembira. Segera ia menuangkan cairan khusus seperti air liur dengan belalai (prosbosis), ke atas sampah ikan sebagai makanan pilihannya, cairan itu mengubah kekentalan makanan tersebut sehingga Lalatih mudah menyerapnya. Kemudian, Lalatih menyerap makanan tersebut dengan pompa penyerap di kerongkongannya melalui belalai tadi. Lalatah menelan air liurnya menyaksikan Lalatih begitu menikmati makanannya. Tak mau kalah ia pun segera memilih sisa sayuran yang sudah membusuk. Ia melakukan hal yang sama seperti Lalatih. Memang begitulah cara lalat menyantap makanannya. Kedua lalat itu begitu menikmati makanan mereka. “Lalatah, bagaimana kalau sementara kita tinggal di daerah ini. Aku sangat senang, pasti kita tidak akan kelaparan.” usul Lalatih. “Setuju!”sahut Lalatah. Kedua lalat itu pun berleha-leha karena kekenyangan.
“Eeh, Lalatih, kamu mencium bau udang favoritmu?” kata Lalatah. “Iya, ya! Sepertinya dari dalam rumah. Yuk kita cari!” ujar Lalatih semangat. Kedua lalat hijau itu pun segera menuju bagian dapur rumah Abbi. Di sana Mama Abbi sedang mengupas kulit udang. Lalatah dan Lalatih menunggu kesempatan untuk menyantap udang tersebut. Akhirnya kesempatan itu datang ketika Mama Abbi mendekati televisi, ia menaruh perhatian pada berita siang mengenai longsornya tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Bantar Gebang. Para pemulung menjadi korban pada kejadian itu. “Kasihan mereka, padahal para pemulung itu mencari nafkah dari sampah-sampah.”gumam Mama Abbi sambil terus menyaksikan berita, ia lupa pada udang yang sedang dibersihkannya. Lalatah dan Lalatih pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka segera menyantap udang-udang segar itu. Saking senangnya mereka berdengung begitu keras sehingga menyadarkan Mama Abbi. “Aduh udangku!”teriaknya. “Hush.hush....pergi lalat kurang ajar!” katanya sambil mengusir Lalatah dan Lalatih dengan sapu lidi. Lalatah dan Lalatih segera menghindar mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. “Huh...hampir saja aku kena sabet.” keluh Lalatah sambil terengah-engah. “Sementara kita istirahat di taman dulu. Sepertinya ada pohon belimbing yang bunganya sedang mekar, kita main-main di bunga-bunga, yuk! Kita kan bisa membantu penyerbukan.” kata Lalatih. “Nanti kita balik lagi, ya. Aku masih penasaran dengan udang tadi.” Lalatah dan Lalatih pun bermain-main dari bunga ke bunga.
Di dapur Mama Abbi melanjutkan memasak udang asam manis kesukaan Abbi. Jam satu siang Abbi pun pulang. “Mama..mama... aku pulang!” teriak Abbi. “Capek sayang, mama masak udang asam manis kegemaran kamu“ kata Mama sambil mencium kening Abbi. “Asyik! Aku jadi lapar nih, Ma!” kata Abbi senang. “Aku ganti baju dulu ya, Ma” katanya sambil berlari ke kamar. “Iya. Jangan lupa cuci tangan.” kata Mama Abbi.
Tak lama kemudian, Abbi pun siap menyantap udang kesukaannya. “Ma, tadi aku ketika lewat depan rumah Pak RT, aku mendengar Pak RT bicara dengan Bu Mia. Katanya Pak Ujang, tukang sampah, sakitnya parah, jadi besok akan diganti orang lain.” cerita Abbi. “Syukur deh! Sampah di depan sudah menumpuk dan berbau. Tadi ada dua lalat hijau masuk dapur ketika Mama memasak.” kata Mama. “Wah, hati-hati, Ma! Mereka pasti masih ada di sekitar sini.” kata Abbi. “Iya, ada lalat berarti ada sampah. Baru 3 hari sampah ngga diangkut sudah menimbulkan masalah.”ujar Mama Abbi. “Sampah benar-benar merepotkan, ya Ma.” Kata Abbi. Ketika Abbi dan Mamanya makan, Lalatah dan Lalatih kembali masuk dapur dan bersembunyi di balik pintu. Mereka sedang menunggu kesempatan mencicipi udang asam manis Mama Abbi.
“Bi, tadi Mama melihat berita di televisi, tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Bantar Gebang longsor menimpa pemulung. Kasihan sekali mereka.”cerita Mama Abbi. “Berarti sampahnya banyak sekali. Oya, Ma. Tadi Bu Guru menerangkan, penyakit Tifus disebabkan karena makan makanan yang tidak bersih, Ma. Mungkin Pak Ujang makan makanan yang telah dihinggapi lalat, ya Ma. Kan, setiap hari Pak Ujang memegang sampah dan pergi dari tempat sampah ke tempat sampah.” kata Abbi. “Bisa jadi, Bi. Makanya kamu, harus menjaga kebersihan dan jangan lupa mencuci tangan sebelum makan.” nasehat Mama. “Nanti kita tutup yang rapat tempat sampah di depan. Semua sampah sudah Mama masukan dalam kantong plastik supaya baunya tidak keluar. Ayo dihabiskan makannya.” ujar Mama Abbi sambil membawa piring kotor ke tempat cuci piring. Lalatah dan Lalatih melihat kesempatan emas. Abbi sedang asyik menghabiskan makanannya. Mama Abbi sedang di dapur. Secepat kilat mereka menuju piring udang asam manis di tengah meja makan. Dalam sekejap Lalatih dan Lalatah telah berada di atas udang asam manis. Abbi terkejut. Sambil mengusir Lalatah dan Lalatih ia berteriak,”Mama..Mama... lalatnya datang!” Mama tergesa-gesa datang sambil membawa sapu lidi. “Mana lalatnya, Bi!”teriak Mama. “Itu Ma, dia mendekati meja makan lagi!” seru Abbi. Lalatah dan Lalatih segera mengambil ancang-ancang untuk kembali menyentuh udang asam manis Mama Abbi. Mama Abbi pun tak kalah sigap dengan gemas ia menunggu kesempatan kedua lalat hijau itu mendekat. Lalatah mengambil inisiatif lebih dahulu untuk mendekati meja makan. Oups... Mama mengebaskan sapu lidinya. Nyaris saja Lalatah terkena kibasan sapu lidi. Tak lama kemudian Lalatih pun menyusul. Wow....ia segera menjauh karena sapu lidi Mama Abbi menghadangnya. Hampir saja ia kena. Untung matanya sangat sensitif terhadap gerakan mendadak. Lensa pada mata lalat berbentuk segi enam sehingga memberikan bidang penglihatan yang jauh lebih besar dari pada lensa biasa. Struktur bulat matanya juga memungkinkan lalat bisa melihat ke belakang tubuh. “Bagaimana Lalatih... masih penasaran?”ujar Lalatah sambil terengah-engah. “Iya, nih. Tadi aku sempat mencicipi sedikit, enak sekali masakan Mama Abbi itu. Kau tunggu di sini, aku coba lagi mendekat. Seru sekali kalau ada tantangan seperti ini.” sahut Lalatih bersemangat. Ia pun segera mengambil ancang-ancang. Secepat kilat ia terbang mendekati meja makan. Ia berkonsentrasi pada piring udang asem manis. Saat meluncur, Lalatih melihat sapu lidi Mama Abbi mendekat, oups ia menghindar, konsentrasinya sedikit buyar, ia tak melihat Abbi yang sedang menunggunya dengan raket pengusir nyamuk. “Pletakkk!” terdengar bunyi percikan api dari raket pengusir nyamuk. Lalatih tersengat listrik berarus rendah dari raket pengusir nyamuk yang dipegang Abbi. “Oohh tidak! Lalatih!” teriak Lalatah. Lalatih jatuh ke lantai. Ia tewas seketika. “Yes, kena! “ teriak Abbi. “Itu, Ma satu lagi di sana!”seru Abbi sambil menunjuk Lalatah yang terpana menyaksikan kematian Lalatih. Merasa ada bahaya mengancam segera Lalatah pergi sambil menangis. “Ohh, Lalatih, malang benar nasibmu.”isaknya sedih.
Lalatah segera meninggalkan rumah Abbi. Ia mampir sebentar di tempat sampah untuk terakhir kalinya untuk melihat telur-telur lalat yang tadi dikeluarkan Lalatih. Besok atau lusa telur itu akan pecah, dan membentuk larva-larva sampai lepas dari kepompongnya. Penerus Lalatih akan siap terbang sebagai lalat dewasa sekitar enam atau tujuh hari lagi. “Selamat tinggal Lalatih, semoga penerusmu tidak mengalami nasib seperti engkau,” ujar Lalatah sambil meninggalkan komplek. Ia tidak akan kembali ke komplek itu lagi karena pasti ia akan sedih mengingat Lalatih.Esok harinya, pagi-pagi sekali pengganti Udin, pengganti Pak Ujang datang dengan mendorong gerobak sampah. Dengan semangat ia membersihkan sampah-sampah yang sudah empat hari tidak terangkut. Komplek tempat tinggal Abbi sekarang bersih kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar