Rabu, 05 Maret 2008

Adik Baru Lizbet

Adik Baru Lizbet
Oleh: Mama Donya

“Daag....” Terdengar suara Tante Atik berpamitan. Akhirnya tamu terakhir pulang juga. Sepanjang hari ini aku kesal sekali. Sejak Mama pulang ke rumah dengan Arvin adik baruku, banyak tamu berdatangan. Mereka membawa kado buat Arvin. Semuanya begitu gembira melihat adikku yang umurnya baru 5 hari. Aku diacuhkan. Bahkan Bi Ami yang sering menemani aku bermain begitu sibuk mengurus tamu-tamu itu.
“Sebentar ya, Mbak Liz. Bibi bikin minum dulu buat tamu,” katanya menolak saat aku memintanya menemani ke taman.
Kesal sekali aku hari ini. Mama Papa lebih memperhatikan adikku. Apalagi adikku itu suka sekali mencari perhatian dengan tangisannya. Kadang aku kasihan sekali melihat Mama, baru saja ia duduk makan, tiba-tiba Si Arvin menangis. Terpaksa Mama meletakkan sendoknya tidak jadi makan untuk melihatnya. Dasar manja.
“Liz....kamu dimana?” terdengar suara Mama memanggilku. Aku diam saja. Rasa kesal di hatiku ngga hilang-hilang.
“Sepertinya tadi masuk kamar, Bu. Dari tadi siang cemberut terus.” Ku dengar Bi Ami berbicara kepada Mama.
Apa-apaan sih Bi Ami ngadu-ngadu ke Mama.
“Liz...kamu sudah tidur?” Mama duduk di samping tempat tidurku. “Kamu belum makan sayang.” Mama mengguncang-guncangkan badan ku.
“Ngga lapar!” jawabku kesal. Padahal perutku dari tadi sudah keroncongan.
Mama tersenyum. “Bohong.....Ayo bangun makan sama Mama dan Papa. Lapar nih.. dari tadi menemani tamu terus ...” rayu Mama.
Akhirnya aku bangun. “Dik Arvin kemana, Ma,” tanyaku.
“Adikmu sedang tidur. Tadi Mama sudah menyusuinya. Kalo perutnya sudah diisi, ia pasti tidur. Ayo kita makan sebelum Arvin bangun.”
Papa Mama dan aku pun makan malam bersama.
“Liz, sepanjang hari ini, kok kelihatannya kamu kesal. Malah mengurung diri di kamar. Kenapa sayang?” tanya Papa.
“Abis Liz kesal. Ngga ada yang memperhatikan, Liz. Semua memperhatikan Dik Arvin. Liz dicuekin.”
Papa malah tersenyum sambil melirik Mama. Apa sih maksudnya seperti ada rahasia diantara mereka.
“Ooohh. Maafkan kami, sayang. Adikmu kan masih bayi, belum bisa apa-apa. Mama Papa juga harus menemani tamu,” kata Mama mencoba memberi pengertian kepadaku.
Tapi dalam hati aku masih kesal.
“Liz, ke sini sayang” Mama membawa sebuah album foto. Aku segera mengikutinya ke ruang keluarga.
“Foto siapa, Ma?” tanyaku.
“Coba lihat... kira-kira ini foto siapa....” tanya Mama sambil menunjukkan sebuah foto bayi mungil.
Wajahnya mirip seperti Dik Arvin. Tapi foto ini sudah lama. Ngga mungkin fotonya Dik Arvin. Mama yang tampak menggendong bayi itu juga lain. Mama tampak masih muda.
“ Ini siapa sih, Ma? Kok mirip Dik Arvin. Kalo yang ini pasti Mama,” kataku sambil menunjuk gambar Mama.
“Ini kamu sayang.Dulu kamu juga sama kecilnya seperti Arvin. ” Mama kemudian memperlihatkan foto yang lain. “Ini foto kamu ketika bisa tengkurap.”
Aku berusaha menerima bahwa foto itu adalah diriku waktu bayi.
“Ini saat kamu bisa duduk.” Aku tersenyum. Aku tampak cantik di foto itu memakai topi berwarna merah sambil tersenyum.
“Oya, foto ini pernah masuk majalah, sayang.” Mama berdiri menuju rak buku mencari majalah yang dikatakannya tadi.
“Ini dia.”
Benar. Fotoku waktu bayi pernah masuk majalah. Aku sangat bangga.
“Ada lagi, Ma,” pintaku pada Mama untuk menunjukkan foto yang lain.
“Kamu pernah juara merangkak,Liz” Mama menunjukkan fotoku digendong Mama, Papa memegang sebuah piala dan sekeranjang hadiah.
“Ohh.. Piala yang diatas rak buku itu, ya Ma.” Mama mengangguk.
“Lizbet lihat. Ini waktu kamu bisa berdiri” Mama menunjukkan foto lain. Aku keren sekali memakai kacamata hitam.
“Ini Ulang tahun pertama, Ma.” Kataku sambil menunjuk foto diriku dengan kue yang ada satu buah lilin menyala. “Mama mengangguk.
Aku begitu menikmati foto-foto saat aku kecil. Mama begitu teliti mengambil saat penting dalam masa bayiku. Ada foto saat aku mandi, makan sendiri, juga foto dengan Eyang Putri,Eyang Kakung, Opa dan Oma.
“Nah, sayang. Adikmu Arvin juga akan seperti kamu. Sekarang ia belum bisa apa-apa. Aktivitasnya tidur, menyusu, mandi. Kalau perlu apa-apa, cuma bisa menangis. Lapar menangis. Pipis menangis. Semua harus ditolong. Nanti perlahan-lahan, ia akan belajar tengkurap, duduk, merangkak, berdiri dan berjalan. Sekarang adikmu belum bisa makan apa-apa kecuali minum susu. Nanti ia akan belajar makan sama seperti kita.”
“Nanti Arvin bisa membaca, ya Ma.”
“Iya, kamu yang ajarkan, ya. Kamu nanti ajarkan adikmu menggambar, mewarnai. Mau kan?” tanya Mama.
“Mau, Ma.” Aku mulai mengerti, Adikku masih kecil, belum bisa apa-apa.
Tiba-tiba Papa muncul membawa sebuah kado.
“Kado buat siapa, Pa?” tanyaku penasaran.
“Ya ..buat kamu.”
“Memangnya aku ulang tahun? Kan ulang tahunku masih enam bulan lagi.”
“Ini kado dari Papa dan Mama buat Lizbet.”
“Selamat jadi kakak, sayang.” Mama dan Papa memeluk dan menciumku.
Aku bahagia sekali. Mama Papa masih sayang dan memperhatikan aku. Ngga cuma Arvin yang dapet kado.
“Oooeek....oooeeekk...” Arvin menangis. Kami segera berlari menuju kamar. Ternyata Arvin ngompol. Tanpa disuruh Mama, ku ambilkan popok baru.
“Ini, Ma.”
“Terima kasih, sayang. Kamu memang kakak yang baik.” Mama tersenyum bahagia.Aku berjanji akan jadi kakak yang baik buat adikku Arvin.

Tidak ada komentar: